Hingga kini, kisah Seru ini masih sering terlintas dalam benak dan pikiranku.

DOWNLOAD VIDEO BOKEP 3GP GRATIS INDO TERBARU 2013
Entah suatu keberuntungankah atau
kepedihan bagi si pelaku. Yang jelas dia sudah mendapatkan pengalaman
berharga dari apa yang dialaminya. Sebut saja namaya si Jo. Berasal dari
kampung yang sebenarnya tidak jauh-jauh sekali dari kota Y. Di kota Y
inilah dia numpang hidup pada seorang keluarga kaya. Suami istri
berkecukupan dengan seorang lagi pembantu wanita Inah, dengan usia
kurang lebih diatas Jo 2-3 tahun. Jo sendiri berumur 15 tahun jalan.
Suatu hari nyonya majikannya yang
masih muda, Ibu Rhieny atau biasa mereka memanggil Bu Rhien, mendekati
mereka berdua yang tengah sibuk di dapur yang terletak di halaman
belakang, di depan kamar si Jo.
“Inah.., besok lusa Bapak hendak ke
Kalimantan lagi. Tolong siapkan pakaian secukupnya jangan lupa sampai ke
kaos kakinya segala..” perintahnya.
“Kira-kira berapa hari Bu..?” tanya Inah hormat.
“Cukup lama.. mungkin hampir satu bulan.”
“Baiklah Bu..” tukas Inah mahfum.
Bu Rhien segera berlalu melewati Jo
yang tengah membersihkan tanaman di pekarangan belakang tersebut. Dia
mengangguk ketika Jo membungkuk hormat padanya.
Ibu Rhien majikannya itu masih muda,
paling tua mungkin sekitar 30 tahunan, begitu Inah pernah cerita
kepadanya. Mereka menikah belum lama dan termasuk lambat karena keduanya
sibuk di study dan pekerjaan. Namun setelah menikah, Bu Rhien nampaknya
lebih banyak di rumah. Walaupun sifatnya hanya sementara, sekedar untuk
jeda istirahat saja.Dengan perawakan langsing, dada tidak begitu besar,
hidung mancung, bibir tipis dan berkaca mata serta kaki yang lenjang,
Bu Rhien terkesan angkuh dengan wibawa intelektualitas yang tinggi.
Namun kelihatan kalau dia seorang yang baik hati dan dapat mengerti
kesulitan hidup orang lain meski dalam proporsi yang sewajarnya. Dengan
kedua pembantunya pun tidak begitu sering berbicara. Hanya sesekali bila
perlu. Namun Jo tahu pasti Inah lebih dekat dengan majikan
perempuannya, karena mereka sering bercakap-cakap di dapur atau di ruang
tengah bila waktunya senggang.Beberapa hari kepergian Bapak ke
Kalimantan, Jo tanpa sengaja menguping pembicaraan kedua wanita
tersebut.”Itulah Nah.. kadang-kadang belajar perlu juga..” suara Bu
Rhien terdengar agak geli.”Di kampung memang terus terang saya pernah
Bu..” Inah nampak agak bebas menjawab.”O ya..?””Iya.. kami.. sst..
pss..” dan seterusnya Jo tidak dapat lagi menangkap isi pembicaraan
tersebut. Hanya kemudian terdengar tawa berderai mereka berdua.Jo mulai
lupa percakapan yang menimbulkan tanda tanya tersebut karena
kesibukannya setiap hari. Membersihkan halaman, merawat tanaman,
memperbaiki kondisi rumah, pagar dan sebagainya yang dianggap perlu
ditangani. Hari demi hari berlalu begitu saja. Hingga suatu sore, Jo
agak terkejut ketika dia tengah beristirahat sebentar di
kamarnya.Tiba-tiba pintu terbuka, “Kriieet.. Blegh..!” pintu itu segera
menutup lagi.Dihadapannya kini Bu Rhien, majikannya berdiri menatapnya
dengan pandangan yang tidak dapat ia mengerti.”Jo..” suaranya agak
serak.”Jangan kaget.. nggak ada apa-apa. Ibu hanya ada perlu
sebentar..””Maaf Bu..!” Jo cepat-cepat mengenakan kaosnya.Barusan dia
hanya bercelana pendek. Bu Rhien diam dan memberi kesempatan Jo
mengenakan kaosnya hingga selesai. Nampaknya Bu Rhien sudah dapat
menguasai diri lagi. Dengan mimik biasa dia segera menyampaikan maksud
kedatangannya.”Hmm..,” dia melirik ke pintu.”Ibu minta kamu nggak usah
cerita ke siapa-siapa. Ibu hanya perlu meminjam sesuatu
darimu..”Kemudian dia segera melemparkan sebuah majalah.”Lihat dan
cepatlah ikuti perintah Ibu..!” suara Bu Rhien agak menekan.Agak
gelagapan Jo membuka majalah tersebut dan terperangah mendapati berbagai
gambar yang menyebabkan nafasnya langsung memburu. Meski orang kampung,
dia mengerti apa arti semua ini. Apalagi jujur dia memang tengah
menginjak usia yang sering kali membuatnya terbangun di tengah malam
karena bayangan dan hawa yang menyesakkan dada bila baru nonton TV atau
membaca artikel yang sedikit nyerempet ke arah “itu”.Sejurus diamatinya
Bu Rhien yang tengah bergerak menuju pintu. Beliau mengenakan kaos hijau
ketat, sementara bawahannya berupa rok yang agak longgar warna hitam
agak berkilat entah apa bahannya. Segera tangan putih mulus itu
menggerendel pintu.Kemudian.., “Berbaringlah Jo.. dan lepaskan
celanamu..!”Agak ragu Jo mulai membuka.”Dalemannya juga..” agak jengah
Bu Rhien mengucapkan itu.Dengan sangat malu Jo melepaskan CD-nya.
Sejenak kemudian terpampanglah alat pribadinya ke atas.
Lain dari pikiran Jo, ternyata Bu
Rhien tidak segera ikut membuka pakaiannya. Dengan wajah menunduk tanpa
mau melihat ke wajahnya, dia segera bergerak naik ke atas tubuhnya. Jo
merasakan desiran hebat ketika betis mereka bersentuhan.
Naik lagi.. kini Jo bisa merasakan
halusnya paha majikannya itu bersentuhan dengan paha atasnya. Naik
lagi.. dan.. Jo merasakan seluruh tulang belulangnya kena setrum ribuan
watt ketika ujung alat pribadinya menyentuh bagian lunak empuk dan basah
di pangkal paha Bu Rhien.
Tanpa memperlihatkan sedikitpun bagian
tubuhnya, Bu Rhien nampaknya hendak melakukan persetubuhan dengannya.
Jo menghela nafas dan menelan ludah ketika tangan lembut itu memegang
alatnya dan, “Bleesshh..!”
Dengan badan bergetar antara lemas dan
kaku, Jo sedikit mengerang menahan geli dan kenikmatan ketika barangnya
dilumat oleh daging hangat nan empuk itu.
Dengan masih menunduk Bu Rhien mulai
menggoyangkan pantatnya. Tangannya menepis tangan Jo yang secara
naluriah hendak merengkuhnya.
“Hhh.. ehh.. sshh.. ” kelihatan Bu Rhien menahan nafasnya.
“Aakh.. Bu.. saya.. saya nggak tahan..” Jo mulai mengeluh.
“Tahann sebentar.. sebentar saja..!”
Bu Rhien nampak agak marah mengucapkan itu, keringatnya mulai
bermunculan di kening dan hidungnya.
Sekuat tenaga Jo menahan aliran yang
hendak meledak di ujung peralatannya. Di atasnya Bu Rhien terus
berpacu.. bergerak semakin liar hingga dipan tempat mereka berada ikut
berderit-derit. Makin lama semakin cepat dan akhirnya nampak Bu Rhien
mengejang, kepalanya ditengadahkan ke atas memperlihatkan lehernya yang
putih berkeringat.
“Aaahhkhh..!”
Sejurus kemudian dia berhenti
bergoyang. Lemas terkulai namun tetap pada posisi duduk di atas tubuh Jo
yang masih bergetar menahan rasa. Nafasnya masih memburu.
Beberapa saat kemudian, “Pleph..!” tiba-tiba Bu Rhien mencabut pantatnya dari tubuh Jo.
Dia segera berdiri, merapihkan rambutnya dan roknya yang tersingkap sebentar.
Kemudian, “Jangan cerita kepada
siapapun..!” tandasnya, “Dan bila kamu belum selesai, kamu bisa puaskan
ke Inah.. Ibu sudah bicara dengannya dan dia bersedia..” tukasnya cepat
dan segera berjalan ke pintu lalu keluar.
Jo terhenyak di atas kasurnya. Sejenak
dia berusaha menahan degup jantungnya. Diambilnya nafasdalam-dalam.
Sambil sekuat tenaga meredam denyutan di ujung penisnya yang terasa mau
menyembur cepat itu. Setelah bisa tenang, dia segera bangkit, mengenakan
pakaiannya kemudian berbaring. nafasnya masih menyisakan birahi yang
tinggi namun kesadarannya cepat menjalar di kepalanya. Dia sadar, tak
mungkin dia menuntut apapun pada majikan yang memberinya hidup itu.
Namun sungguh luar biasa pengalamannya tersebut. Tak sedikitpun
terpikir, Bu rhien yang begitu berwibawa itu melakukan perbuatan seperti
ini.
Dada Jo agak berdesir teringat ucapan
Bu Rhien tentang Inah. Terbayang raut wajah Inah yang dalam benaknya
lugu, tetapi kenapa mau disuruh melayaninya..? Jo menggelengkan kepala..
Tidak..! biarlah perbuatan bejat ini antara aku dan Bu Rhien. Tak ingin
dia melibatkan orang lain lagi. Perlahan tapi pasti Jo mampu
mengendapkan segala pikiran dan gejolak perasaannya. Beberapa menit
kemudian dia terlelap, hanyut dalam kenyamanan yang tanggung dan
mengganjal dalam tidurnya.
Perlakuan Bu Rhien berlanjut tiap kali
suaminya tidak ada di rumah. Selalu dan selalu dia meninggalkan Jo
dalam keadaan menahan gejolak yang menggelegak tanpa penyelesaian yang
layak. Beberapa kali Jo hendak meneruskan hasratnya ke Inah, tetapi
selalu diurungkan karena dia ragu-ragu, apakah semuanya benar-benar
sudah diatur oleh majikannya atau hanyalah alasan Bu Rhien untuk tidak
memberikan balasan pelayanan kepadanya.
Hingga akhirnya pada suatu malam yang
dingin, di luar gerimis dan terdengar suara-suara katak bersahutan di
sungai kecil belakang rumah dengan rythme-nya yang khas dan dihafal
betul oleh Jo. Dia agak terganggu ketika mendengar daun pintu kamarnya
terbuka.
“Kriieet..!” ternyata Bu Rhien.
Nampak segera melangkah masuk kamar.
Malam ini beliau mengenakan daster merah jambu bergambar bunga atau
daun-daun apa Jo tidak jelas mengamatinya. Karena segera dirasakannya
nafasnya memburu, kerongkongannya tercekat dan ludahnya terasa asin.
Wajahnya terasa tebal tak merasakan apa-apa.
Agak terburu-buru Bu Rhien segera
menutup pintu. Tanpa bicara sedikitpun dia menganggukkan kepalanya. Jo
segera paham. Dia segera menarik tali saklar di kamarnya dan sejenak
ruangannya menjadi remang-remang oleh lampu 5 watt warna kehijauan.
Sementara menunggu Jo melepas celananya, Bu rhien nampak menyapukan
pandangannya ke seantero kamar.
“Hmm.. anak ini cukup rajin membersihkan kamarnya..” pikirnya.
Tapi segera terhenti ketika dilihatnya “alat pemuasnya” itu sudah siap.
Dan.., kejadian itu terulang kembali
untuk kesekian kalinya. Setelah selesai Bu Rhien segera berdiri dan
merapihkan pakaiannya. Dia hendak beranjak ketika tiba-tiba teringat
sesuatu.
“Oh Ibu lupa..” terhenti sejenak ucapannya.
Jo berpikir keras.. kurang apa lagi..?
Jujur dia mulai tidak tahan mengatasi nafsunya tiap kali ditinggal
begitu saja, ingin sekali dia meraih pinggang sexy itu tiap kali hendak
keluar dari pintu.
Lanjutnya, “Hmm.. Inah pulang kampung pagi tadi..” dengan wajah agak masam Bu Rhien segera mengurungkan langkahnya.
“Rasanya tidak adil kalau hanya Ibu yang dapat. Sementara kamu tertinggal begitu saja karena tidak ada Inah..”
Jo hampir keceplosan bahwa selama ini
dia tidak pernah melanjutkan dengan Inah. Tapi mulutnya segera
dikuncinya kuat-kuat. Dia merasa Bu Rhien akan memberinya sesuatu.
Ternyata benar.. Perempuan itu segera menyuruhnya berdiri.
“Terpaksa Ibu melayani kamu malam ini.
Tapi ingat.., jangan sentuh apapun. Kamu hanya boleh melakukannya
sesuai dengan yang Ibu lakukan kepadamu..”
Kemudian Bu Rhien segera duduk di tepi
ranjang. Dirainya bantal untuk ganjal kepalanya. Sejuruskemudian dia
membuka pahanya. Matanya segera menatap Jo dan memberinya isyarat.
“..” Jo tergagap. Tak mengira akan diberi kesempatan seperti itu.
Dalam cahaya kamar yang minim itu
dadanya berdesir hebat melihat sepasang paha mulus telentang. Di sebelah
atas sana nampak dua bukit membuncah di balik BH warna krem yang muncul
sedikit di leher daster. Dengan pelan dia mendekat. Kemudian dengan
agak ragu selangkangannya diarahkan ke tengah diantara dua belah paha
mulus itu. Nampak Bu Rhien memalingkan wajah ke samping jauh..
sejauh-jauhnya.
“Degh.. degh..” Jo agak kesulitan memasukkan alatnya.
Karena selama ini dia memang pasif.
Sehingga tidak ada pengalaman memasukkan sama sekali. Tapi dia merasakan
nikmat yang luar biasa ketika kepala penisnya menyentuh daging lunak
dan bergesekan dengan rambut kemaluan Bu Rhien yang tebal itu. Hhh..!
Nikmat sekali. Bu Rhien menggigit bibir. Ingin rasanya menendang bocah
kurang ajar ini. Tapi dia segera menyadari ini semua dia yang memulai.
Badannya menggelinjang menahan geli ketika dengan agak paksa namun tetap
pelan Jo berhasil memasukkan penisnya (yang memang keras dan lumayan
itu) ke peralatan rahasianya.
Beberapa saat kemudian Jo secara naluriah mulai menggoyangkan pantatnya maju mundur.
“Clep.. clep.. clep..!” bunyi penisnya beradu dengan vagina Bu Rhien yang basah belum dicuci setelah persetubuhan pertama tadi.
“Plak.. plak.. plakk..,” kadang Jo terlalu kuat menekan sehingga pahanya beradu dengan paha putih mulus itu.
“Ohh.. enak sekali..” pikir Jo.
Dia merasakan kenikmatan yang lebih lagi dengan posisi dia yang aktif ini.
“Ehh.. shh.. okh..,” Jo benar-benar tak kuasa lagi menutupi rasa nikmatnya.
Hampir beberapa menit lamanya keadaan
berlangsung seperti itu. Sementara Jo selintas melirik betapa wajah Bu
rhien mulai memerah. Matanya terpejam dan dia melengos ke kiri, kadang
ke kanan.
“Hkkhh..” Bu Rhien berusaha menahan nafas.
Mulanya dia berfikir pelayanannya hanya akan sebentar karena dia tahu anak ini pasti sudah diujung “konak”-nya.
Tapi ternyata, “Huoohh..,” Bu Rhien merasakan otot-otot kewanitaannya tegang lagi menerima gesekan-gesekan kasar dari Jo.
Dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak terbangkitkan nafsunya.
Jo terus bergoyang, berputar,
menyeruduk, menekan dan mendorong sekuat tenaga. Dia benar-benar sudah
lupa siapa wanita yang dihadapannya ini. yang terfikir adalah keinginan
untuk cepat mengeluarkan sesuatu yang terasa deras mengalir dipembuluh
darahnya dan ingin segeradikeluarkannya ..!!”Ehh..” Bu Rhien tak mampu
lagi membendung nafsunya.
Daster yang tadinya dipegangi agar
tubuhnya tidak banyak tersingkap itu terlepas dari tangannya, sehingga
kini tersingkap jauh sampai ke atas pinggang. Melihat pemandangan ini Jo
semakin terangsang. Dia menunduk mengamati alatnya yang serba hitam,
kontras dengan tubuh putih mulus di depannya yang mulai
menggeliat-geliat, sehingga menyebabkan batang kemaluannya semakin
teremas-remas.
“Ohh.. aduh.. Bu..,” Jo mengerang pelan penuh kenikmatan.
Yang jelas Bu Rhien tak akan
mendengarnya karena beliau sendiri tengah berjuang melawan rangsangan
yang semakin dekat ke puncaknya.
“Okh.. hekkhh..” Bu Rhien menegang, sekuat tenaga dia menahan diri, tapi sodokan itubenar-benar kuat dan tahan.
Diam-diam dia kagum dengan stamina anak ini.
Akhirnya karena sudah tidak mampu lagi
menahan, Bu Rhien segera mengapitkan kedua pahanya, tanganya meraih
sprei, meremasnya, dan.., “Aaakkhh..!” dia mengerang nikmat.
Gudang Download Video 3gp gratis Indonesia terbesar
Orgasmenya yang kedua dari si Jo malam
ini. Sementara si Jo pun sudah tak tahan lagi. Saat paha mulus itu
menjepit pinggangnya dan kemudian pantat wanita itu diangkat, penisnya
benar-benar seperti dipelintir hingga, “Cruuth..! crut.. crut..!”
memancar suatu cairan kental dari sana. Jo merasakan nikmat yang luar
biasa. Seperti kencing namun terasa enak campur gatal-gatal
gimana.”Ohk.. ehh.. hh,” Jo terkulai. Tubuhnya bergetar dan dia segera
mundur dan mencabut penisnya kemudian terhenyak duduk di kursi sebelah
meja di kamarnya. Wajahnya menengadah sementara secara alamiah tangannya
terus meremas-remas penisnya, menghabiskan sisa cairan yang ada disana.
Ooohh.. enak sekali..
Di ranjang Bu Rhien telentang lemas.
Benar-benar nikmat persetubuhan yang kedua ini. Beberapa saat dia
terkulai seakan tak sadar dengan keadaannya. Bongkahan pantatnya yang
mengkal dan mulus itu ter-expose dengan bebas. Rasanya batang kenyal nan
keras itu masih menyumpal celah vaginanya. Memberinya sengatan dan
sodokan-sodokan yang nikmat. Jo menatap tubuh indah itu dengan penuh
rasa tak percaya. Barusan dia menyetubuhinya, sampai dia juga
mendapatkan kepuasan. Benarkah..?
Sementara itu setelah sadar, Bu Rhien
segera bangkit. Dia membenahi pakaiannya. Terlintas sesuatu yang agak
aneh dengan anak ini. Tadi dia merasa betapa panas pancaran sperma yang
disemburkannya. Seperti air mani laki-laki yang baru pernah bersetubuh.
“Berapa jam biasanya kamu melakukan ini dengan Inah, Jo..?” tanya Bu Rhien menyelidik.
Jo terdiam. Apakah beliau tidak akan marah kalau dia berterus terang..?
“Kenapa diam..?”
Jo menghela nafas, “Maaf Bu.. belum pernah.”
“Hah..!? Jadi selama ini kamu..?”
“Iya Bu. Saya hanya diam saja setelah Ibu pergi.”
“Oo..,” Bu Rhien melongo.
Sungguh tidak diduga sama sekali kalau
itu yang selama ini terjadi. Alangkah tersiksanya selama ini kalau
begitu. Aku ternyata egois juga. Tapi..?, masa aku harus melayaninya.
Apapun dia kan hanya pembantu. Dia hanya butuh batang muda-nya saja
untuk memenuhi hasrat sex-nya yang menggebu-gebu terus itu. Selama ini
bahkan suami dan pacar-pacarnya dulu tak pernah mengetahuinya. Ini
rahasia yang tersimpan rapat.”Hmm.. baiklah. Ibu minta kamu jangan
ceritakan ke siapapun. Sebenarnya Ibu sudah bicara sama Inah mengenai
masalah ini. Tapi rupanya kalian tidak nyambung. Ya sudah.. yang penting
sekali lagi, pegang rahasia ini erat-erat.. mengerti..?” kembali
suaranya berwibawa dan bikin segan.
“Mengerti Bu..,” Jo menjawab penuh rasa rikuh.
Akhirnya Bu Rhien keluar kamar dan Jo segera melemparkan badannya ke kasur. Penat, lelah, namunnikmat dan terasa legaa.. sekali.
http://www.sang-pakar.com/cerita-seks-terbaru-memek-ibu-rein/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar